Pengalaman Operasi Jari Pelatuk/Triger Finger/Stenosing Tenosivity
Saya Bagus, pengajar piano. Awal tahun 2021 saya menyadari ada yang aneh dengan kemajuan saya dalam visi menguasai beberapa lagu klasik piano secara total.
Sudah 2 tahun berlalu, tapi boro-boro menguasai, membunyikan tangga nada secara rapih di tempo sedang saja tidak bisa. Jari tengah tangan kanan saya cenderung lurus sendiri saat tempo dipercepat.
2 tahun tsb lebur begitu saja tanpa hasil karena awalnya saya percaya pda 2 guru piano lain yang lebih tinggi levelnya, dan jawaban mereka sama bahwa saya salah teknik, atau kurang bisa menguasai mental. Sehingga saya pikir ini soal waktu dan latihan. Akan tetapi lewat 2 tahun saya yakin betul ada yang tidak beres.
Singkat cerita saya Googling di forum dan blog pianist-pianist dan mendapatkan clue, mendapatkan testimoni pengalaman yang kurang lebih sama, bahwa ada semacam cidera jari yang disebut Jari Pelatuk/Triger Finger atau Stenosing Tenosivity.
Gejala.
Gejala yang dialami sama, jari selalu terasa bunyi 'glug' saat ditekuk/diluruskan. Ini membuat permainan piano mustahil mulus dengan cara apapun. Untuk level yang lebih parah beberapa orang mengalami jari yang terkunci.
Symtomp
Saya memberanikan diri datang ke poli Orthopedi, dan dr spesialis orthopedi tsb menyimpulkan hal yang sama. Jari saya tersusun oleh tulang dan tendon/otot, dimana tendon saya membesar/bengkak akibat gerakan berulang atau kontraksi terlalu over Seperti menggunakan rem tangan, bermain piano scr berlebihan, atau mengangkat beban terlalu berat, atau olahraga jari dengan beban. Entah mana penyebabnya, yang pasti saya pernah melakukan semua itu.
Tendon yang bengkak ini membuat proses keluar masuk melewati sarung tendon menjadi tersendat, menyebabkan gerakan delay pada jari, serta kelenturan yang terbatas, dan rasa tidak nyaman pada jari.
Solusi
Seperti yang saya baca di pengalaman orang2, demikian juga saran dokter kepada saya agar menjalani operasi. Sebenarnya bisa saja dengan terapi peregangan, obat, atau suntik, namun semua ini akan kambuh lagi kalau memang pekerjaan saya bermain piano. Inti dari operasi nantinya adalah hendak MEROBEK sarung tendon agar tendon bisa bergerak leluasa. Terdengar mengerikan, namun
Dengan hati yang penuh jengkel karena membuang waktu 2 tahun berlatih piano dengan jari yang ngaco, saya langsung memilih operasi.
Operasi
Meski saya mengikuti program asuransi bpjs, namun segalanya tidak mudah. Saya harus debat dan ribut dulu dengan dokter faskes 1 sebelum diberi surat rujukan operasi ke rumah sakit. Saya jengkel sekaligus maklum karena kasus semacam ini jarang terjadi, sehingga dokter faskes 1 ngotot menganggap ini nyeri biasa dan tidak perlu membuang buang uang negara utk operasi. Saya bilang bahwa ini rekomendasi dr.orthopedi dan terkait profesi saya, namun dr.faskes tetap tidak mau, namun akhirnya mau karena saya benar-benar lebih ngotot.
Rawat Inap
Setelah dapat surat rujukan dan kembali ke poli Orthopedi, saya kaget karena dr.orthopedi merujuk saya ke bagian rekam medis utk memesan kamar rawat inap.
Saya kaget karena berdasarkan kesaksian pasien di google mereka hanya melalui rawat jalan dengan operasi yang menggunakan bius lokal dan durasi tidak lebih dari 30 menit.
Tidak seperti mereka, saya wajib rawat inap dan akan menggunakan bius umum/total!
Merasa paranoid takut disalahgunakan/malpraktek, saya menagih penjelasan. Dokter menyampaikan bahwa hanya dengan bius total, beliau bisa lebih fokus dalam operasi agar tidak terjadi kerusakan syaraf di tangan, mengingat saya adalah pianist.
Oke, alasan tersebut saya terima dan saya pulang utk menunggu informasi berikutnya dari rumah sakit jika sudah ada kamar kosong.
Operasi
2 Minggu kemudian saya ditelfon untuk datang ke R.S jam 7 pagi dan puasa mulai jam 6 pagi.
Saya menurut persis seperti permintaan r.s..
Jam 8 pagi saya sudah di kamar rawat inap dengan infus di tangan kiri, puasa, dan dikabarkan akan operasi jam 1 siang.
Jam 1 siang berlalu, dengan perubahan jadwal mjd jam 4.
Jam 4 sore, dokter orthopedi datang dan saya gemetar nervous, tapi ternyata dia hanya menandai jari tengah tangan kanan saya dengan spidol, sembari mengatakan "Maghrib ya".
Kesal bukan main karena menunggu dan lapar haus, saya langsung ngobrol asik dengan teman saya yg menunggu saya, tanpa memikirkan soal dehidrasi atau apa.
Singkat cerita jam 18.00 saya dijemput suster utk naik kursi roda dan di antar ke kamar operasi.
Di situ saya masih harus menunggu, hingga jam 19.30 saya baru benar2 di antar ke ruang operasi.
Sudah ada 4 perawat laki-laki dengan masker dan pakaian khusus yang mengerikan. Saya takut karena heran kenapa operasi jari tapi harus seserius ini operasinya. Tidak lama dokter orthopedi masuk ke ruangan dan memberi instruksi kepada dr. Anestesi utk memberikan bius total durasi 5 menit! Ya, 5 menit katanya .
Persis setelah bius disuntikan ke selang infus, mata saya menjadi berat, ngantuk dan lemas.
Setelah itu saya tidak sepenuhnya tidur, saya seperti ada di tempat yang aneh, melihat cahaya tidak beraturan, mendengar suara tidak beraturan, namun tidak tahu bahwa saya siapa, sedang apa, dari mana. Tidak tahu. Tidak ada ingatan sama sekali.
Setelah bbrp lama barulah saya mengingat pelan2, sambil sedikit merasakan tangan saya seperti ditarik (yang ternyata di jahit). Tidak terasa sakit, namun saya perlahan sadar meski tidak maksimal, bahkan kacau.
Saya sempat 'ngefly' dengan meracau, berbicara bahasa Inggris, menyanyi, seperti orang mabok.
Pemulihan
Singkat cerita saya dikembalikan ke kamar inap, dan mulai pulih sepenuhnya dan melihat tangan kanan saya sudah tertutup kasa.
Saya sangat lega melihat dendam saya terbalaskan kepada jari tengah saya.
Rasa pegal, geli, dan sakit menyelimuti telapak tangan. Saya coba gerakan jari tengah, bisa digerakkan namun tambah pegal.
1 bulan berlalu, dan saya benar2 bisa bermain piano dengan sangat baik.
Pengalaman yang tidak sia sia.
Pelajarannya, bagi kita yang memiliki jari sehat, jangan sepelekan rutinitas yang tidak manusiawi pada jari, sebab ada cidera yang meski kecil namun berdampak besar bagi keseharian.
#operasi
#jari pelatuk
#stenosing
#triger finger
Komentar
Posting Komentar